Jangan Pernah Sepelekan Batuk

Batuk, bagi kebanyakan orang, adalah hal biasa dan sama dalam setiap kemunculannya. Padahal ada beberapa jenis batuk, sehingga penting bagi seseorang untuk mengenali batuk yang dideritanya. Jenis batuk yang berbeda membutuhkan pengobatan yang berbeda pula.

Pada dasarnya, batuk diciptakan Tuhan sebagai mekanisme pertahanan tubuh. “Itu mekanisme defensif dari seorang manusia. Inilah fungsi dasar batuk,” ungkap ahli pulmonologi dari RS Persahabatan, Prof dr Hadiarto Mangunnegoro SpP FCCP.

Dengan batuk, berati kita mengeluarkan dengan cepat sesuatu benda yang berada dalam saluran napas. Kecepatan batuk bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, batuk merupakan mekanisme pertahanan yang bekerja dengan cepat sekali.

Namun demikian, ungkap Hadiarto, batuk juga bisa merupakan suatu penyakit, atau lebih tepatnya manifestasi dari suatu penyakit. Persoalannya, mana yang merupakan penyakit dan mana yang tidak. Untuk membedakannya, ujar mantan ketua Asosiasi Ahli Pulmonologi Indonesia ini, biasanya dilihat dari intensitas dan durasi batuk.

Batuk yang berfungsi sebagai pertahanan hanya berlangsung sesaat. “Jadi kalau sudah keluar barangnya, ya sudah,” ujarnya. Sementara batuk yang merupakan penyakit, mempunyai durasi yang panjang. “Kalau batuknya terus-menerus, lama, berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan, itu sudah hampir pasti bukan suatu keadaan yang fisiologi. Jadi kalau dia ternyata setelah dua minggu batuknya terus, dan malahan tambah parah, itu sudah pasti penyakit. Dia harus mencari pengobatan,” ujarnya.

Batuk seperti ini, sambungnya, sudah merupakan manifestasi dari suatu penyakit. Artinya, batuk tersebut ditimbulkan karena adanya suatu proses yang berjalan terus-menerus. Misalnya karena infeksi pada saluran napas atau bronkhitis.

Ia mengungkapkan, batuk yang merupakan manifestasi dari penyakit disebabkan dua hal: infeksi (pada saluran napas) dan noninfeksi. Di Indonesia dan negara-negara berkembang, kasus infeksi pada saluran napas tergolong tinggi. TBC misalnya, merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia. Sementara pneumoni (radang paru) menduduki urutan keempat. “Tapi di negara maju sekalipun, seperti Amerika, pneumoni penyebab keenam kematian,” ungkap Hadiarto.

Batuk noninfeksi paling banyak disebabkan asma, disusul bronkhitis kronik, serta kanker. “Tiga ini yang paling banyak,” ujar Hadiarto.

  • Comments
Leave a Reply

Logged in as - Log out

Reply to:

2014 © Dokter Spesialis Paru