Jenis-jenis batuk

Menurut Hadiarto, pada intinya batuk terbagi dua; batuk kering dan batuk berlendir. Membedakan keduanya penting mengingat masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda pula. Banyak orang mengira batuk lendir dan batuk kering sama saja.

Untuk batuk kering, ujar Hadiarto, obat yang diperlukan adalah yang disebut antitusif. Obat ini berfungsi untuk menekan rangsangan batuk Sementara untuk batuk berlendir, harus diberikan obat yang bisa merangsang pengeluaran lendir (ekspektoran).

“Tapi sering masyarakat menggunakan ini keliru. Batuk berlendir dikasih untuk menekan, misalnya Kodein. Memang batuknya hilang atau jauh berkurang, tapi napas jadi sesak,” papar anggota eksekutif Asia Pacific Society of Respirology ini.

Napas sesak tersebut, katanya, disebabkan lendir yang tidak bisa keluar akibat ditekannya rangsangan batuk. Lendir yang tertahan mengganggu aliran udara pada saluran pernapasan.

Batuk kering biasanya dipicu rangsangan atau iritasi yang diakibatkan debu (kendati batuk berdahak juga bisa karena iritasi, ini terjadi pada penderita alergi). Rangsangan/iritasi debu ini bisa menimbulkan efek batuk yang berlainan pada setiap orang.

Pada orang biasa, ungkap Hadiarto, rangsangan tersebut hanya menimbulkan batuk satu-dua kali. Tapi pada penderita alergi, rangsangan ini bisa menimbulkan refleks batuk yang berkepanjangan.

Pada penderita alergi, jelasnya, rangsangan tersebut menimbulkan reaksi alergik. “Akhirnya menjadi proses yang kemudian ujung-ujungnya adalah saluran pernapasan menjadi lebih basah karena produksi lendirnya lebih banyak. Dan karena produksi lendirnya banyak, refleks batuknya meningkat,” paparnya.

Obat batuk

Masih banyak masyarakat yang salah mengerti mengenai obat batuk. Obat batuk, ujar Hadiarto, hanya bisa menghilangkan batuk yang diakibatkan oleh iritasi (debu). Bahkan tanpa obat sekalipun batuk tersebut akan hilang dengan sendirinya. Sementara batuk yang diakibatkan penyakit, tidak bisa hilang oleh obat batuk.

“Jadi kalau orang bilang obat batuk, terus terang saya nggak ngerti apa yang dimaksud dengan obat batuk. Orang mengira obat batuk itu adalah obat yang bisa menghilangkan batuk, karena itu mereka selalu mencoba minum obat-obat batuk yang dijual, dengan harapan batuknya hilang. Tapi ‘kan kebanyakan tidak hilang, kalau itu batuknya karena penyakit,” paparnya.

Menurut Hadiarto, yang penting diperhatikan sebelum mengonsumsi obat batuk adalah mengenali apakah batuk yang diderita diakibatkan flu atau hal lain. “Sebenarnya orang kalau tadinya sehat, lalu kena batuk, itu hampir dipastikan dia flu. Jadi dia nggak usah terlalu khawatir karena saluran napasnya itu steril,” ujarnya.

Pada orang biasa, penyakit flu akan hilang dalam waktu sekitar seminggu. “Dia makan obat batuk atau tidak, kira-kira satu mingguan dia akan baik. Jadi obat batuk dalam hal ini nggak terlalu penting. Dia hanya untuk simtomatik (mengurangi gejala-gejala),” ujarnya.

Namun demikian jika batuk terus berlangsung kendati sudah menghabiskan satu botol obat batuk, maka ada sesuatu yang tidak benar. Karenanya, ujar Hadirto, orang tersebut harus memeriksakan diri ke dokter. “Saya tak jarang mendapat pasien, dia bilang ‘sudah habis enam botol macam-macam merek, sama saja batuk terus.’ Itu sudah nggak bener,” paparnya.

Bagi penderita batuk yang diakibatkan alergi, kata Hadiarto, pemberian obat-obatan ada gunanya. Ini mengingat obat batuk mengandung antihistamin yang menekan reaksi alergi. Namun demikian, lanjutnya, antihistamin mempunyai efek samping membuat kantuk.

Hal lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah asma. Penyakit ini salah satu gejala utamanya adalah batuk. “Orang mengira asma itu hanya kalau napasnya bunyi. Padahal gejala yang pertama adalah batuk,” ujar Hadiarto. Yang paling penting, sambungnya, pasien harus bertanya kepada dokter apakah dia menderita asma atau tidak, karena pengobatannya berbeda.

Ketua Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW — Lembaga Pemerhati Masalah Kefarmasian Indonesia) Drs Amir Hamzah Pane Apt MM meminta masyarakat berhati-hati dalam melihat promosi obat batuk, terutama tujuan spesifik obat yang ditawarkan. “Jangan menggeneralisasi obat batuk,” tegasnya.

Ia mengatakan masyarakat perlu memperhatikan dengan seksama kandungan obat batuk. Obat batuk, sambungnya, terbagi tiga jenis: dekongestan, antitusif, dan ekspektoran. “Masing-masing mempunyai target terapi yang spesifik,” ungkap staf ahli Komisi VII DPR ini.

  • Comments
Leave a Reply

Logged in as - Log out

Reply to:

2014 © Dokter Spesialis Paru