Kenali Alergi Anak Sejak Dini

Usia 0-2 tahun merupakan masa emas pertumbuhan anak. Di masa itu, anak yang mewarisi bakat alergi umumnya mulai menunjukkan gejala. Debu, bulu binatang, serbuk bunga, dan makanan tertentu seperti telur, susu, dan ikan laut biasanya menjadi pemicu.

Asma bronkial atau bengek, alergi pada hidung, biduran, eksim, mata berair karena polusi udara, alergi terhadap makanan tertentu adalah jenis-jenis alergi yang lazim terjadi pada anak.

“Asma bronkial atau biasa disebut dengan bengek terjadi karena penyempitan saluran napas akibat rangsangan dari luar seperti debu, serbuk bunga, udara dingin, atau makanan.” ujar spesialis anak RS Asri
dr. Keumala Pringgardini, SpA.

Sedangkan alergi di hidung atau rinitis biasanya menyebabkan hidung tersumbat dan berair. “Hal ini dapat mengganggu waktu tidur anak.”

Jika bengek dan rinitis diakibatkan alergi pada saluran pernapasan, lain halnya dengan biduran dan eksim yang menyerang kulit. Eksim dapat muncul akibat penggunaan popok yang tidak bersih. “Popok harus tetap terjaga kebersihannya. Pastikan selalu mengganti popok setelah anak buang air kecil atau buang air besar.”

Alergi terhadap makanan merupakan yang paling sering terjadi dan kadang membahayakan bagi anak. Gejala yang sering muncul antara lain bengkak, gatal pada mulut, mual, muntah, sakit perut, diare, tinja berdarah, kulit kemerahan, bentol, gatal, sesak napas, hidung berair dan tersumbat.

“Makanan-makanan yang termasuk ke dalam alergan adalah susu sapi, telur, ikan, kacang, dan cokelat,” ujarnya.

Pada umumnya, alergi terhadap makanan akan hilang seiring bertambahnya usia. Dan, saat itulah saat yang tepat bagi orangtua untuk kembali melakukan edukasi pengenalan rasa makanan pada anak agar anak tidak takut dan trauma atas alergi yang sempat dideritanya.

Alergi adalah penyakit yang dapat diturunkan. Jika orangtua memiliki alergi, anak memiliki risiko alergi 50 hingga 80 persen, jika salah satu orang tua memiliki alergi, anak memiliki risiko alergi sebanyak 20 hingga 40 persen.

Jadi, jika Anda memiliki alergi, ada kemungkinan anak Anda juga akan memiliki alergi terhadap zat-zat alergan. Karenanya, Anda dapat melakukan tindakan pencegahan sejak mengandung. “Tapi, Anda tidak perlu melakukan diet pencegahan terhadap makanan yang bisa menimbulkan alergi. Yang terpenting, Anda harus mengonsumsi asupan bergizi yang cukup untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi dalam kandungan.”

Selain itu, saat mengandung, pastikan Anda menjalani gaya hidup sehat dengan menghindari rokok dan alkohol. Dan ketika menyusui, Anda harus rajin memerhatikan apa asupan makanan. “Sebaiknya, ibu menyusui menghindari makanan-makanan yang berpotensi menimbulkan alergi selama enam bulan.”

Jika anak kadung alergi, usaha penghindaran harus dilakukan. Pertama, Anda harus mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan anak Anda alergi dengan melakukan tes alergi disamping pengamatan sehari-hari pada anak
Anda.

Anda harus selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah. Pastikan kamar tidur bebas debu, dan jauhkan anak dari paparan asap rokok. Dan, jangan lupa terapkan gaya hidup sehat dengan rutin berolahraga, menjaga pola makan.

Ingat, pemberian obat adalah langkah terakhir. Obat hanya diberikan bagi penderita alergi kronis yang sering kambuh.

Pipiet Tri Noorastuti, Febry Abbdinnah – vivanews

  • Comments
Leave a Reply

Logged in as - Log out

Reply to:

2014 © Dokter Spesialis Paru