Paru Kota atau Paru Kita

SISKA paling benci bila musim hujan tiba. Bukan lantaran musim yang datang tiap akhir dan awal tahun ini mendatangkan banjir. Bukan pula mewabahnya beragam penyakit, seperti flu atau diare. Melainkan musim yang satu ini sering membuat dia kesulitan bernapas.

Apalagi bila udara di sekitar rumahnya berubah drastis dari panas menjadi dingin. Saban kali datang perubahan temperatur, suara ”ngik-ngok” muncul dari tenggorokannya. Sesak napas. Warga Cipinang, Jakarta Timur, itu memang alergi terhadap cuaca dingin. Perubahan cuaca selalu membuat asmanya kambuh.

Karenanya, dalam tas wanita berusia 27 tahun itu selalu tersedia obat asma hirup. Tiap kali muncul gejala sesak napas, ia segera menyemprotkan obat itu ke lubang hidungnya. Kehangatan melonggarkan pernapasan. Tak lama, napasnya kembali lega.

Siska tidak sendirian di negeri ini. Menurut Profesor Hadiarto Mangunnegoro, ahli penyakit paru dari Universitas Indonesia, Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur, saja saban tahun didatangi 10.000 pasien asma. Asma, satu dari aneka gangguan saluran napas, tergolong penyakit paru-paru. Satu keluarga dengan radang paru-paru, tuberkulosis (TBC), bronkitis, juga kanker paru.

Di Indonesia, kata Hadiarto, radang paru-paru, TBC, dan bronkitis masuk dalam daftar 10 besar penyakit penyebab kematian. Dalam kelompok penyakit paru ini, menurut Hadiarto, musuh orang Indonesia yang lain adalah TBC. “Kira-kira 500.000 penderita TBC per tahun,” ujar Hadiarto. Kanker paru-paru saat ini masih tidak terlalu besar. Namun, “Sepuluh tahun yang akan datang, mungkin kanker paru juga masuk dalam 10 besar,” Hadiarto menambahkan.

Tingginya angka itu, menurut dia, karena banyak orang yang kurang memperhatikan kesehatan paru-paru. Misalnya, ia tetap tinggal di lingkungan yang udaranya kotor, atau tidak menggunakan masker ketika berdiri atau tinggal di daerah berpolusi.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun sekitar 3 juta orang meninggal karena polusi udara (sekitar 5% dari 55 juta orang yang meninggal setiap tahun di dunia). Sekitar separuh dari 3 juta itu terjadi di kota-kota Asia.

Lima belas kota yang paling terpolusi di dunia terdapat di Asia. Atmosfer kota paling tercemar (berturut-turut): Katmandu (Nepal), New Dehli (India), Jakarta (Indonesia), dan Chongqing (Cina), lalu diikuti Calcutta (India). Sepertiga dari pencemaran udara di dunia disemburkan di kota-kota tersebut.

Di samping yang tewas, tentu lebih banyak lagi warga di kota-kota itu yang menderita gangguan pernapasan parah akibat polusi udara. Umur produktif pun dipangkas gara-gara menghirup udara kotor. Bank Dunia memperkirakan, banyak masyarakat perkotaan di Asia Timur dan Pasifik kehilangan lebih dari 12 tahun usia produktif mereka karena cacat.

WHO memperkirakan, tiap tahun trilyunan dolar dikeluarkan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan polusi udara. Ini semua lantaran pencemaran udara.

Jakarta, ibu kota negeri kita tercinta ini, tampaknya masih harus berjuang keras untuk membersihkan atmosfernya. Maklum, jumlah kendaraan baru terus bertambah dengan pertumbuhan sekitar 5% per bulan. Belum lagi mobil-mobil lama yang masih berlalu lalang.

Asal tahu saja, 70% polusi udara di Jakarta keluar dari knalpot kendaraan bermotor, sisanya (30%) berasal dari pencemaran industri. Di luar itu, ada juga polusi yang membawa kuman-kuman penyakit, seperti bakteri TBC, atau yang ditularkan dari tungau, yang bisa memicu penyakit asma.

Tapi upaya membersihkan kota dari pencemaran bukannya tak dilakukan di Jakarta. Di beberapa tempat, seperti di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, dipasang alat pengukur gas polutan. Lalu dilakukan pula pengujian emisi gas buang. Beberapa mobil keluaran baru harus menjalani tes emisi dalam tenggat waktu tertentu. Emisi karbon monoksida (CO) pada saat kendaraan tidak berjalan, misalnya, ditetapkan maksimum 4,5 gram. Bila berjalan, paling tinggi 2,2 gram. Tapi beberapa alat pencatat udara kini tak berfungsi baik.

Surabaya sebagai kota kedua terbesar di Indonesia tak jauh berbeda. Beberapa alat pencatat kondisi udara di beberapa ruas jalan sudah rusak. Sehingga ada guyonan di masyarakat, alat-alat itu “meleleh” karena suhu udara ”kota pahlawan” itu terlampau tinggi. Hutan kota ”kota buaya” ini tak lagi mampu mengimbangi kotornya udara.

“Udara kota sudah sangat mengkhawatirkan,” kata Winariani, dokter spesialis paru Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Udaranya sudah banyak tercemar. Bila musim kemarau tiba, udara di kota metropolis ini sungguh membakar kulit. Gas karbon monoksida sangat menyesakkan. Gas ini terutama dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

“Banyak orang di sini yang menderita penyakit paru-paru,” katanya. Antara lain terserang radang paru-paru, sesak napas, juga asma. Padahal, penyakit ini tak boleh dianggap enteng. Bila tak segera ditangani, penderita bisa meninggal.

Polutan yang terisap saat bernapas akan merusak bulu-bulu getar yang terdapat di trakea –rongga bercabang yang menghubungkan tenggorokan dan kedua bilah paru-paru. Jika itu terjadi, peran bulu getar sebagai penyaring kotoran tak berfungsi. Akibatnya, banyak kotoran yang memenuhi paru-paru dan merusak rongga udara atau alveoli (baca: Filter Seluas Lapang Tenis).

Apabila paru-paru sudah disesaki udara tercemar, kerja cairan lendir di lapisan bawah alveoli akan terganggu. Padahal, alveoli bertugas mengatur keluar-masuknya oksigen dan karbon dioksida dalam darah. Di situ juga terdapat sel-sel darah yang akan mengangkut “bahan bakar” oksigen ke seluruh tubuh.

Karena itu, tak ada pilihan lain. Untuk meringankan kerja paru-paru kita, harus segera disehatkan paru-paru kota. Ya, “Sudah saatnya kita galakkan lagi kampanye langit biru,” kata Winariani. Hubungi Dokter Spesialis Paru anda.

  • Comments
Leave a Reply

Logged in as - Log out

Reply to:

2014 © Dokter Spesialis Paru