Sebelum Napas Semakin Sesak

Aris, sebut saja begitu, seharusnya bisa menikmati masa tua di usianya yang 71 tahun. Hal itu mungkin terwujud jika saja tubuhnya tak digerogoti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Tubuhnya kini sangat kurus. Gerak napasnya selalu terlihat setiap kali ia menarik atau mengembuskan napas.

Kondisi itu pun sudah lebih membaik. Meski untuk berjalan, tiap beberapa menit ia harus beristirahat. “Tapi dulu waktu pertama kali ke dokter sama sekali tak bisa jalan. Bahkan satu hari bisa menghabiskan dua tabung oksigen untuk membantu pernapasan,” kata Haris.

Sejak muda, Haris dikenal sebagai jagoan merokok. “Satu hari bisa habis dua bungkus rokok (ia menyebut merek rokok laris di Indonesia),” katanya. Nah, kebiasaan merokok inilah yang menurut Prof Dr Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K), FCCP, ahli paru dari Rumah Sakit Asri, Jakarta Selatan, sebagai pemicu utama PPOK pada Haris.

“Paru adalah organ yang paling harus dijaga karena berhubungan langsung dengan lingkungan luar,” kata Hadiarto dalam seminar tentang PPOK beberapa waktu lalu.

PPOK memang belum terlalu populer di Indonesia. Pengobatannya pun sering tak dilakukan, apalagi upaya pencegahan. “Gejala PPOK sering dianggap sebagai batuk biasa,” kata Hadiarto.

Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), PPOK merupakan ancaman mematikan di urutan kelima. Data statistik menunjukkan bahwa 60 persen dari total populasi Indonesia adalah perokok. Sekitar 5,7 persen di antaranya adalah perokok berat, yang berisiko terkena PPOK.

Penyakit paru ini ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas karena peradangan. Sifat penyakit ini progresif, paru-paru tak bakal bisa kembali normal. “Dokter tak bisa menyembuhkan PPOK, hanya dapat menolong mengurangi gejala dan menghambat kerusakan paru,” kata Hadiarto.

Paru-paru memiliki dua bagian: tube bronkial atau jalur udara dan alveoli atau kantong udara. Ketika kita bernapas, udara bergerak masuk ke trakea atau pipa udara melalui tube bronkial hingga berakhir di alveoli. Dari alveoli, oksigen masuk ke pembuluh darah. Pada saat yang sama, karbon dioksida keluar dari pembuluh darah ke alveoli untuk dikeluarkan saat kita mengembuskan napas.

Pada pengidap PPOK, tube bronkial meradang, berwarna merah, dan penuh dahak, yang menghalangi masuknya udara. Ini membuat pengidap jadi sesak napas. Ada juga penderita PPOK yang mengalami iritasi di alveoli. Alveoli jadi kaku dan tak cukup menahan oksigen yang masuk. Ini membuat penderita kesulitan mempertahankan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.

“Paru sangat berkaitan dengan jantung. Kerja keduanya seperti angka delapan,” kata ahli jantung Dr Kasim Rasjidi. Menurut Kasim, PPOK adalah salah satu kelainan paru yang mengakibatkan gagal jantung.

Gejala dan tanda penyakit jantung akibat paru adalah sesak, mengi atau napas berbunyi, batuk, bengkak pada anggota tubuh bagian bawah, seperti kaki dan pergelangannya, tidak kuat beraktivitas fisik, rasa tak nyaman di dada, kulit yang berwarna kebiru-biruan, pembuluh darah leher yang melebar, bengkak perut, pembesaran hati, serta perubahan bunyi jantung. Yang terpenting dari pengobatan penyakit jantung akibat kelainan paru ini adalah mengontrol penyebabnya.

PPOK tidak menular. Orang dewasa bisa mengidap PPOK, tapi tidak pada anak-anak. Meski tak menular, PPOK bisa mengurangi kualitas hidup dan mengubah struktur tubuh, seperti dada menggembung, paru-paru memanjang, serta diafragma tertarik ke atas.

Menciptakan lingkungan yang bersih dari polusi udara dan menghentikan kebiasaan merokok adalah kata kunci menghindari penyakit ini.

  • Comments
Leave a Reply

Logged in as - Log out

Reply to:

2014 © Dokter Spesialis Paru